No image available

DRIVING AND CONTROLING PADA NISSAN TERRA

Pertama, karena ini Nissan Terra tipe VL penggerak 4×2, maka kemampuannya agak terbatas. Maksimal medan off road ringan, seperti yang Anda lihat di beberapa foto ini. Meski begitu, banjir musiman di Jakarta harusnya aman dilewati karena ground clearance setinggi 225 mm. Untuk informasi, Harga Nissan Terra ini adalah Rp 524 Juta (OTR Jakarta).

Kedua, kami ingin menguji sesuatu yang menarik di balik kulitnya. Mesin dan penggeraknya yang jadi andalan. Sadar kalau fitur SUV besar kelas menengah macam ini bersaing ketat, Nissan mengedepankan mesin 2,5 liter turbodiesel empat silinder, bertenaga 190 ps. Pada kelasnya inilah SUV yang paling bertenaga yang juga diikuti Pajero Sport dengan 181 ps dan Fortuner 164 ps dengan tranmisi 7-speed, yang dapat mengantar tenaga ke roda belakang.

Hal menarik lain adalah platform. Seperti dua kompetitornya, Terra juga berbagi platform dengan double cabin. Tepatnya Nissan Navara. Platform ini juga terkenal tangguh di medan offroad berat, sekaligus nyaman di jalanan aspal. Karena itu juga, Mercedes-Benz memanfaatkannya dan menghasilkan X-Class, double cabin pertama pabrikan Jerman itu. Jadi kalau Anda beli Terra, boleh bangga karena masih saudara dengan salah satu produk Mercedes-Benz. Jadi, apakah rasanya senyaman Mercy?

Driving and Controling
Rasanya tidak jauh dari Mitsubishi Pajero Sport ataupun Toyota Fortuner. Sesuatu yang agak mengecewakan karena ekspektasinya lebih tinggi dari itu. Padahal, suspensi belakangnya sudah multi link. Mungkin karena kami pernah mencoba Navara dan sangat puas. Limbung? Pasti. Ini karena mobilnya tinggi. Tapi manuver pada kecepatan 60 km/jam masih bisa diterima dengan baik.

Suspensi Terra terasa bekerja keras saat melaju di kecepatan 100 km/jam. Hasilnya, peredaman memang tidak membuat mual, tapi pengemudinya jadi lebih waspada. Salah satu efek dari mobil dengan chassis ladder kurang lebih seperti ini. Maka dari itu efek yang sama juga bisa Anda rasakan di dua kompetitor dekatnya. Ini tidak menghalangi kami untuk melaju 120 km/jam, dan pasang cruise control. Dengan kecepatan yang konstan, kami bisa jadi lebih memperhatikan kelebihan yang ada di mobil ini.

Yang paling kentara suara mesinnya. Saat pertama dihidupkan dan berjalan pada putaran mesin rendah (idle hingga 1.500 rpm), gemeretak khas diesel mampir ke kabin dengan jelas. Mengganggu? Kalau Anda sadar, ya. Tapi masih bisa ditutupi dengan suara dari sistem audio. Hal berbeda saat jantung mekanis ini berputar di atas 2.000 rpm. Segalanya jadi hening. Yang tersisa hanyalah suara artikulasi ban, plus sedikit deruman suara angin yang menabrak spion. Kombinasikan hal ini dengan transmisi yang halus dan responsif. Ini juga yang bikin kami terlena dan speedometer mencolek angka 170 km/jam saat rute balik ke Jakarta di malam hari.

Hal lain yang baru disadari, setirnya terasa berat di berbagai tingkat kecepatan. Kami tidak keberatan saat di kecepatan tinggi. Tapi waktu parkir perlu usaha ekstra. Untungnya, momen parkir bisa jadi lebih mudah karena Nissan memberikan paket fitur bantu Intelligent Mobility.

Selain sensor, hasil tangkapan kamera dimunculkan pada kaca spion tengah. Awalnya perlu pembiasaan, tapi lama-lama terbiasa. Bahkan cukup presisi, layaknya cermin biasa. Saat parkir, tampilan kamera bertambah dengan around view monitor dan kamera mundur. Kalau merasa tidak nyaman dengan teknologi ini, kamera bisa dimatikan dan berubah jadi spion biasa.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *